Langsung ke konten utama

SEMINAR SIDOGIRI (KH. YAHYA ZAINUL MA'ARIF & KH. SAID AGIL SIRADJ)...

Pembicara pertama:
KH Yahya Zainul Maarif.

Ulama yang akrab disapa Buya Yahya berbicara to the point. Beliau langsung pada pokok masalah yang sedang dijadikan tema perbincangan pada acara tersebut.

Menurut beliau, solusi atas berbagai problem umat saat ini adalah menyatukan pemahaman konsep Ahlussunnah wal Jamaah. Dengan cara itulah perbedaan yang mengarah kepada perpecahan dan kemunduran umat Islam barangkali dapat disikapi dengan benar.
Ada 3 hal utama yang telah digariskan oleh ulama Ahlussunnah sebagai haluan dasar ajaran Islam. Pertama adalah Nash (al-Quran dan Hadis), dengan beberapa pembagiannya.


Ada nash yang qath`iyyuts-tsubūt wa d-dilālah: dalil dan maksudnya jelas dan pasti seperti hadis mutawatir, ada pula yang qath`iyyuts-tsubūt wa zhanniyyud-dilālah, dls.
Kedua adalah Ijma'. Ketetapan hukum yang disepakati oleh ulama. Dan ketiga adalah mashlahah. Dua hal yang pertama adalah tsawabit, ketetapan yang bersifat permanen dan tidak boleh diubah-ubah. Sedangkan yang terakhir adalah mutaghayyirat, hal-hal yang fleksibel dan bisa berubah sesuai dengan situasi dan kondisi.

Dhawābith dan ketentuan ini adalah ajaran ulama sejak zaman dulu dan menjadi identitas Ahlussunnah wal Jamaah di seluruh dunia sejak generasi awal. Dengan ini tidak perlu ada Islam Arab, Islam Inggris, ataupun Islam Nusantara.

Saat ini sebagian anak-anak kami yang liberal banyak melanggar Ijma'. Mereka mengaburkan tsawabit dan mutaghayyirat. Sehingga kemudian mereka lembut ke luar (orang-orang non muslim dan non Ahlussunnah wal Jamaah), tapi kasar ke dalam (sesama Islam Ahlussunnah yang beda manhaj dan thariqah dakwah dengan mereka)...


*****

Pembicara kedua:

KH Said Aqil Siradj

Kiai Said, demikian beliau biasa dipanggil, mendapat bagian menjelaskan konsep Islam Nusantara.

Beliau mengawali pembicaraannya dengan menjelaskan shautul haqq (suara kebenaran) dan shautul hidayah (suara petunjuk) versi Ahlussunnah dan Syiah.
Materi tentang "pendekatan Ahlussunnah dan Syiah" ini menjadi semacam materi wajib yang biasa beliau ulang-ulangi di berbagai macam acara pengajian dan seminar.

Oleh karena itu, tulisan ini fokus pada poin-poin yang saya anggap penting terkait dengan topik pembahasan yang menjadi bagian beliau.

Beliau mengatakan bahwa pada masa hidupnya Rasulullah Saw, shautul haq itu ada pada satu orang, yaitu beliau. Rasulullah Saw adalah satu-satunya sosok yang menjadi standar kebenaran.

Setelah Rasulullah wafat. Shautul haq itu ada pada tiap-tiap sahabat, bi-ayyihim iqtadaitum ihtadaitum. Tapi menurut Syiah, shautul haq hanya ada pada satu orang, yaitu Sayidina Ali.

Setelah wafatnya Sayidina Ali, shautul haq pindah kepada satu orang lagi, yaitu putranya. Kiai Said kemudian menyebutkan satu persatu 12 imam Syiah, hingga Muhammad bin al-Hasan al-Askari, imam mahdinya Syiah.

Beliau kemudian menjelaskan tentang tokoh-tokoh yang paling berjasa dalam sejarah Ahlussumnah wal Jamaah. Di antaranya Imam asy-Syafi'i (dalam ilmu fikih dan ushul fikih), Imam Abul Hasan al-Asy'ari (dalam akidah-teologi), Imam Junaid al-Baghdadi dan al-Ghazali (dalam ilmu tasawuf) dan KH Hasyim Asy'ari.

Menurut Ketua Umum PBNU ini, Kiai Hasyim Asy'ari adalah ulama yang paling hebat sedunia karena beliau mampu memadukan ukhuwah islamiyah dengan ukhuwah wathaniyah.

Dalam pandangan Kiai Said, Islam Nusantara bukan madzhab baru. Islam Nusantara hanya berkenaan dengan tipologi dan ciri khas kebudayaan dan tradisi keislaman umat Islam Indonesia dan sekitarnya.

Islam Nusantara dianggap penting untuk membuat citra Islam yang positif yang berbeda dengan citra Islam di Timur Tengah. Bahkan Kiai Said menyatakan bahwa Timur Tengah itu memalukan dan menyedihkan. Maka jangan sampai konflik di Arab itu terjadi di Indonesia.

Kiai Said kemudian menjelaskan bahaya Wahabi dan menyebutkan satu persatu yayasan-yayasan Wahabi yang beliau hapal dengan luar biasa. Beliau bicara banyak tentang Wahabi dan bahayanya.

Tapi di sisi yang lain beliau sama sekali tidak menyinggung bahayanya Syiah. Beliau hanya membuat pernyataan singkat bahwa SYIAH hanya berbahaya kalau sudah banyak.

Beliau bicara dalam waktu yang lama dan penyampaiannya banyak yang tidak nyambung dengan topik pembahasan. Sampai-sampai moderator mengingatkan beliau untuk bicara to the point, karena penyampaiannya lebih sering diisi dengan pamer kehebatan dan hapalan nazham dan syair Arab di forum para ulama dan habaib tersebut.
=====
Penjelasan beliau di atas dan beberapa kontroversi yang beliau lakukan mendapatkan banyak koreksi dari ulama dan habaib pada acara dialog pada sesi kedua.



__________
Sumber Tulisan :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1063140923708475&id=100000377328463

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGENAL SYEKH AL BUTHI, SANG AL GHAZALI KECIL DARI SYAM...

(Oleh: KH. Rojih Ubab Maimoen) Suara-NU.com~ Mengenal Syekh Al Buthi, mengingatkan kita pada sosok Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali, seorang mujaddid yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Demikian halnya Syekh Al Buthi. Kepakarannya telah diakui ulama sedunia. Ilmunya telah memenuhi berbagai penjuru bumi. Hingga pada hari syahidnya, seisi dunia menangis, meratapi kepergiannya.